
Ngomongin Iklim perkotaan dan Urban Heat Island (UHI)
Dalam diskusi kali ini, Kota Masa Depan membuka ruang pertukaran gagasan mengenai tantangan pembangunan berkelanjutan di wilayah tropis. Bersama CCSEA, The Greenbelt Project, dan Nauval (UHI Enthusiast), perbincangan mengerucut pada satu isu yang kian mendesak di kawasan Asia Tenggara, yaitu kenaikan suhu permukaan atau urban heat island (UHI). Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan warga kota, tetapi juga menjadi indikator penting dari ketidakseimbangan antara pembangunan dan daya dukung lingkungan.
Kenaikan Suhu di Kota: Tantangan Baru Asia Tenggara
Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan suhu permukaan telah menjadi salah satu permasalahan iklim paling serius di kawasan Asia Tenggara. Kota-kota di wilayah ini menghadapi tekanan besar akibat urbanisasi, ekspansi lahan terbangun, serta berkurangnya tutupan vegetasi.
Perwakilan dari CCSEA menyoroti bahwa meskipun negara-negara Asia Tenggara dapat dikatakan agak terlambat dalam merespons isu ini, kesadaran terhadap pentingnya ketahanan iklim perkotaan kini mulai tumbuh. Banyak kota mulai mengadopsi pendekatan adaptif seperti penerapan konsep green building yang ramah lingkungan.
Sebagai perbandingan, beberapa kota di dunia telah mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memantau kenaikan suhu permukaan secara lebih akurat, seperti yang dilakukan di Abu Dhabi. Dengan data yang lebih presisi, perencanaan kota dapat lebih berbasis pada sains dan prediksi jangka panjang.
Untuk menangani permasalahan isu kenaikan suhu permukaan ini diperlukan adanya teknologi terbaru yang dapat menjawab tantangan dan kondisi, salah satunya adalah inovasi material bangunan yang digunakan, misalnya melalui penggunaan cat berteknologi khusus yang mampu memantulkan panas, sehingga bangunan dapat mengurangi penyerapan suhu dari sinar matahari.
Namun, seluruh pembicara sepakat bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban. Diperlukan strategi yang kontekstual, yaitu perlunya sebuah kebijakan yang mempertimbangkan karakter sosial, ekonomi, dan tata ruang khas Asia Tenggara yang beragam.

Urbanisasi dan Penurunan Ruang Hijau di Bandung
Fenomena urban heat island tidak bisa dilepaskan dari laju urbanisasi yang cepat. Nauval menjelaskan bahwa urbanisasi menyebabkan meningkatnya kepadatan bangunan, volume kendaraan bermotor, serta penggunaan material konstruksi yang menyerap panas seperti beton dan aspal.
Akibatnya, permukaan kota menjadi sulit menyerap air dan panas yang tersimpan di siang hari tidak mudah dilepaskan pada malam hari. Kondisi ini memicu perbedaan suhu yang signifikan antara kawasan perkotaan dan sekitarnya.
Kota Bandung menjadi salah satu contoh nyata dari perubahan ini. Berdasarkan pengukuran suhu permukaan melalui data satelit time-series, suhu Bandung kini meningkat jauh dibandingkan beberapa dekade lalu. Dari sisi tata ruang, ruang terbuka hijau di Bandung kini hanya sekitar 12% dari total luas kota—angka yang jauh di bawah ideal.
Nauval menegaskan bahwa penanaman pohon memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim mikro kota. Ia menambahkan bahwa taman yang hanya ditanami rumput tidak cukup, karena rumput tidak memiliki kemampuan penyerapan emisi dan penyimpanan karbon sebesar pepohonan besar.
Hilangnya Tutupan Vegetasi dan Inisiatif Penghijauan
The Greenbelt Project memperkuat temuan tersebut dengan data dari Global Forest Watch yang menunjukkan perubahan drastis tutupan vegetasi di Bandung. Wilayah seperti Gedebage dan Muhammad Toha kini menunjukkan penurunan jumlah pohon yang signifikan. Menariknya, kedua kawasan ini juga tercatat sebagai area dengan suhu permukaan tertinggi di kota Bandung.
Pembangunan yang masif bukan hanya mengubah lanskap kota, tetapi juga menghilangkan hutan alam di sekitar Bandung, meningkatkan emisi karbon tanpa diimbangi vegetasi penyerap. Aktivitas masyarakat yang padat memperburuk situasi ini, sementara laju pembangunan kini juga mulai merambah ke Kabupaten Bandung Barat, menandakan ekspansi kota yang semakin meluas.
Sebagai respon terhadap kondisi tersebut, The Greenbelt Project menginisiasi penanaman bambu di bantaran Sungai Cikapundung. Inisiatif ini memiliki dua tujuan utama, yaitu penghijauan kota dan konservasi air sungai.
Bambu dipilih karena mampu tumbuh dengan cepat dan memiliki sistem perakaran kuat yang berfungsi seperti spons alami untuk menyerap air. Dengan cara ini, penanaman bambu tidak hanya memperbaiki mikroklimat, tetapi juga membantu meminimalkan risiko banjir serta memperkuat daya tahan ekologis kota.

Belajar dari Singapura: Pembangunan Tanpa Lahan Luas
Dalam sesi diskusi, para pembicara menyoroti contoh menarik dari Singapura, negara dengan keterbatasan ruang namun berhasil mengembangkan strategi keberlanjutan yang terukur.
Tidak seperti banyak kota lain, Singapura tidak memiliki standar nasional jumlah minimal ruang terbuka hijau (RTH), tetapi mengimbangi keterbatasan tersebut dengan pendekatan pembangunan berbasis prinsip keberlanjutan dan ESG (Environmental, Social, and Governance).
Setiap proyek pembangunan dinilai dari tahap perencanaan hingga implementasi untuk memastikan keberlanjutan menyeluruh.
Selain itu, pemerintah Singapura mewajibkan setiap bangunan baru memiliki sistem pendinginan (cooling system) yang efisien, sebagai bagian dari strategi adaptasi terhadap suhu tinggi. Parisipan diskusi sepakat bahwa implementasi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Singapura dapat menjadi studi percontohan yang aplikatif, mengingat kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Bandung, mulai mengalami keterbatasan ruang terbuka hijau akibat tingginya tingkat Pembangunan.
Terkait urban heat island, para pembicara juga menekankan bahwa tidak ada ambang batas pasti kapan UHI dianggap berbahaya. Tujuan pengukuran justru untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana aktivitas harian mereka dapat memperburuk atau mengurangi dampak kenaikan suhu.
Dalam konteks ini, konsep green building dan green space yang banyak digaungkan, merujuk bukan hanya soal menghadirkan warna hijau dalam arsitektur, tetapi memastikan bahwa vegetasi yang digunakan benar-benar alami dan berkontribusi terhadap fungsi ekologis kota.
Menutup dengan Refleksi: Menuju Kota yang Lebih Sejuk dan Resilien
Diskusi “Kota Masa Depan” kali ini menunjukkan bahwa isu urban heat island tidak semata-mata tentang suhu, tetapi tentang arah pembangunan kota yang berkelanjutan. Peningkatan suhu menjadi refleksi dari ketidakseimbangan antara aktivitas manusia dan kapasitas alam untuk memulihkan diri.
Para pembicara sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, peneliti, dan komunitas lokal merupakan kunci utama dalam merumuskan solusi realistis dan kontekstual. Pendekatan berbasis data, inovasi teknologi, dan upaya penghijauan adaptif harus berjalan beriringan agar kota-kota di Asia Tenggara dapat tumbuh tanpa kehilangan kesejukannya.
Dari penerapan AI untuk pemetaan suhu, hingga penanaman bambu di bantaran sungai, setiap langkah kecil menjadi bagian dari upaya besar menuju kota yang lebih hijau, resilien, dan manusiawi.


